Bandung, BBF – Kenapa ya di saat ekonomi lagi lesu, harga-harga naik, dan banyak orang bilang sulit secara finansial, konser-konser justru ramai banget? Tiket ludes dalam hitungan menit, dan para penonton tetap memenuhi stadion.
Padahal, di satu sisi, ada juga yang mengeluh soal harga kebutuhan pokok yang semakin mahal. Apa sih yang sebenarnya terjadi kalau kita melihat dari sudut pandang ekonomi?
Daftar isi
ToggleEfek Substitusi dan Efek Pendapatan
Dari sudut pandang ekonomi, ada konsep yang disebut efek substitusi dan efek pendapatan. Ketika pendapatan seseorang berkurang atau tertekan karena inflasi, mereka biasanya akan mencari pengganti untuk barang-barang mahal yang dulunya sering mereka konsumsi. Tapi uniknya, hiburan, seperti konser, sering dianggap sebagai kebutuhan psikologis. Orang mungkin menunda pembelian barang-barang mewah seperti elektronik atau liburan jauh, tapi mereka tetap ingin “melarikan diri” sejenak dari tekanan hidup melalui hiburan, salah satunya konser.
Saat harga kebutuhan pokok naik dan pendapatan riil menurun, orang jadi lebih selektif dalam mengeluarkan uang. Tetapi mereka tidak mau sepenuhnya mengorbankan pengalaman hiburan. Konser dianggap sebagai pengeluaran yang, meskipun mahal, memberikan “kebahagiaan langsung” yang sepadan dengan uang yang dikeluarkan. Jadi, meskipun ekonomi lagi lesu, konser tetap jadi prioritas.
Kelas Menengah dan Atas yang Masih Kuat
Meski ekonomi lagi lesu, nggak semua lapisan masyarakat terkena dampaknya secara sama. Bagi sebagian orang, terutama kelas menengah ke atas, pengeluaran untuk hiburan seperti konser bukanlah masalah besar. Mereka punya disposable income atau pendapatan yang bisa dibelanjakan setelah memenuhi kebutuhan pokok. Jadi, walaupun ekonomi melambat, kelompok ini tetap bisa menghabiskan uang untuk hiburan tanpa banyak memikirkan dampak ekonominya.
Mungkin kamu pernah melihat tiket konser dengan harga fantastis yang masih saja ludes. Ini menunjukkan bahwa segmen pasar yang mampu membayar untuk pengalaman seperti konser tetap ada, dan mereka cenderung tidak terlalu terpengaruh oleh gejolak ekonomi sehari-hari.
Konser Sebagai Bentuk Konsumsi Pengalaman
Dalam teori ekonomi modern, ada yang disebut konsumsi pengalaman. Orang-orang sekarang tidak hanya membeli barang, tetapi juga pengalaman. Dan konser adalah salah satu bentuk konsumsi pengalaman paling populer. Kamu pasti tahu betapa berartinya momen-momen seperti ini bagi banyak orang—bukan hanya mendengarkan musik, tapi juga merasakan suasana, bertemu teman, atau bahkan mendapatkan konten sosial media.
Banyak penelitian menunjukkan bahwa konsumsi pengalaman membuat orang merasa lebih bahagia dan puas dibandingkan dengan konsumsi barang. Pengalaman nonton konser punya nilai emosional yang lebih tahan lama dibandingkan dengan membeli barang-barang konsumtif lainnya. Inilah salah satu alasan kenapa di tengah ekonomi yang sulit sekalipun, orang masih rela mengeluarkan uang untuk konser. Mereka menganggap pengalaman ini lebih “berharga” dibandingkan sekadar membeli barang.
Perilaku Konsumen: Kebutuhan Hiburan di Tengah Tekanan
Di masa-masa sulit, perilaku konsumen cenderung mengalami pergeseran. Orang-orang akan mencari cara untuk menjaga kesehatan mental mereka, terutama di tengah tekanan ekonomi. Hiburan seperti konser menjadi bentuk “self-care” atau pelarian dari rasa cemas atau stres. Ini adalah bagian dari mekanisme bertahan hidup di dunia modern yang penuh tekanan.
Ekonomi boleh saja melambat, tapi kehidupan terus berjalan. Orang masih perlu sesuatu untuk dirayakan, mereka masih butuh momen untuk merasa bahagia, meski hanya sesaat. Konser menawarkan pelarian sejenak dari kerasnya kehidupan sehari-hari. Meski harus berhemat di banyak hal, hiburan seperti ini sering kali dianggap sebagai “reward” setelah berjuang menghadapi berbagai kesulitan ekonomi.
Dukungan Sistem Pembayaran dan Fasilitas Kredit
Faktor lain yang mendukung ramai-ramainya konser di tengah ekonomi lesu adalah sistem pembayaran yang fleksibel. Saat ini, banyak platform menawarkan sistem cicilan atau “pay later”, di mana kamu bisa beli tiket sekarang dan bayarnya belakangan. Ini memungkinkan orang untuk tetap menikmati hiburan meskipun dana mereka terbatas saat itu juga.
Dengan fasilitas pembayaran yang lebih fleksibel, orang merasa lebih mudah mengakses tiket konser tanpa harus langsung mengeluarkan uang dalam jumlah besar. Ini secara tidak langsung meningkatkan daya beli, meski kondisi ekonomi secara keseluruhan tidak sedang baik.
FOMO (Fear of Missing Out)
Fenomena FOMO juga jadi alasan kenapa konser tetap ramai meski ekonomi lesu. Ketika konser besar diumumkan, apalagi artis internasional yang jarang datang, banyak orang merasa “nggak mau ketinggalan momen.” Takut menyesal kalau nggak ikut, takut ketinggalan pengalaman yang hanya terjadi sekali.
Dari sudut pandang ekonomi, fenomena konser yang tetap ramai di tengah lesunya ekonomi sebenarnya nggak terlalu mengherankan. Orang mencari pelarian dari stres, terutama dalam bentuk hiburan. Meski banyak sektor ekonomi melambat, hiburan masih menjadi prioritas bagi sebagian orang, terutama mereka yang punya pendapatan lebih. Selain itu, sistem pembayaran yang lebih mudah juga mempermudah akses ke konser, sehingga daya beli tetap terjaga.
Jadi, meski ekonomi sedang tidak baik, konser masih ramai karena kebutuhan manusia akan hiburan dan pengalaman tetap ada. Mungkin kamu pun merasakannya—di tengah tekanan hidup, hiburan bisa jadi “obat” yang kamu butuhkan.
Urusan pajak menjadi lebih mudah
Bukan hanya kemudahan, bisnis best friend siap membantu sahabat bbf dalam urusan perpajakan. Bersama kami, sahabat tidak perlu khawatir memikirkan urusan perpajakan,serahkan semuanya kepada kami, dan sahabat tetap bisa fokus dalam membangun bisnis Sehingga sahabat bisa mengehmat waktu dan tenaga untuk mengurus perusahaan.
Untuk akses lainnya bisa kunjungi melalui Instagram: @bisnisbestfriend atau bisa juga kunjungi tiktok kami bisnisbestfriend Jangan ragu untuk menghubungi kami hari ini untuk mendapatkan konsultasi gratis! Klik tombol di sini atau hubungi kami di +62 821-2833-3701 untuk memulai. Jangan biarkan pajak menjadi beban, biarkan kami membantumu!










