Purbaya Yudhi Ungkap Pajak Mengendap di Bank Sentral

Purbaya Yudhi Ungkap Pajak Mengendap di Bank Sentral

Bandung, BBF – Beberapa waktu lalu, publik dikejutkan oleh pernyataan Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa dalam rapat kerja dengan DPR. Ia mengakui bahwa ada kesalahan kebijakan dari sisi fiskal dan moneter yang membuat ekonomi Indonesia melambat. Salah satu penyebabnya? Pajak rajin ditarik, tapi uangnya malah mengendap di Bank Indonesia.

Kalimat itu langsung jadi sorotan. Karena di tengah masyarakat yang taat bayar pajak, ternyata uangnya belum tentu langsung kembali ke ekonomi riil. Lalu, apa dampaknya?

Menurut Purbaya Yudhi, Uang Pajak Terkumpul Tapi Tidak Bergerak

Menurut data yang disampaikan Purbaya Yudhi, pemerintah memiliki saldo anggaran lebih (SAL) dan sisa lebih pembayaran anggaran (SiLPA) sebesar Rp425 triliun yang tersimpan di Bank Indonesia. Dana ini berasal dari pajak yang sudah ditarik dari masyarakat dan dunia usaha, tapi belum dibelanjakan kembali ke sektor riil.

Padahal, ekonomi Indonesia sangat bergantung pada permintaan domestik. Ketika uang pajak hanya “parkir” di bank sentral, daya dorong terhadap konsumsi dan investasi jadi lemah. Akibatnya, sektor riil kesulitan bergerak, likuiditas seret, dan pertumbuhan ekonomi pun melambat.

Bayangkan ekonomi sebagai mesin mobil. Pajak adalah bahan bakarnya. Tapi kalau bahan bakar cuma ditampung di tangki cadangan dan tidak dialirkan ke mesin, mobilnya tidak akan jalan.

Begitu juga dengan ekonomi. Pajak yang rajin ditarik seharusnya segera dibelanjakan untuk belanja negara: infrastruktur, subsidi, bantuan sosial, dan proyek strategis. Kalau tidak, masyarakat hanya merasa diminta berkontribusi tanpa melihat hasilnya.

Menurut Purbaya Yudhi, Alasan Kenapa Uang Pajak Bisa Numpuk?

Ada beberapa alasan kenapa dana pajak bisa mengendap:

  • Kebijakan pengetatan fiskal Pemerintah menerapkan efisiensi anggaran, tapi kadang terlalu hati-hati hingga belanja tertunda.
  • Proses birokrasi lambat Banyak proyek belum jalan karena proses administrasi dan persetujuan yang berbelit.
  • Ketakutan terhadap defisit Pemerintah khawatir belanja berlebihan bisa memicu defisit, padahal belanja yang produktif justru bisa mendorong pertumbuhan.
  • Transisi kepemimpinan dan strategi baru Dalam masa transisi, sering terjadi penyesuaian arah kebijakan yang membuat belanja tertunda.

Pajak Rajin Ditarik, Tapi Ekonomi Tidak Tumbuh

Purbaya menyebut bahwa pertumbuhan uang primer sempat naik 7% pada April 2025, tapi kemudian jatuh ke 0% pada Agustus. Artinya, uang beredar di masyarakat menurun drastis. Ini menunjukkan bahwa meskipun pajak rajin ditarik, dampaknya ke ekonomi tidak terasa karena uangnya tidak kembali ke masyarakat dalam bentuk belanja negara.

Solusi Dari Purbaya Yudhi

Purbaya Yudhi sudah menyampaikan rencana untuk menarik Rp200 triliun dari BI dan mengembalikannya ke sistem perekonomian. Ini langkah awal yang baik. Tapi agar efektif, perlu strategi lanjutan:

  1. Percepat belanja negara yang produktif Fokus pada sektor yang bisa menyerap tenaga kerja dan mendorong konsumsi.
  2. Perbaiki birokrasi anggaran Permudah proses pencairan dan pelaksanaan proyek.
  3. Transparansi penggunaan pajak Publikasikan secara terbuka bagaimana pajak digunakan agar masyarakat merasa dilibatkan.
  4. Sinkronisasi kebijakan fiskal dan moneter Jangan sampai satu kebijakan mendorong, yang lain malah mengerem.

Pajak Harus Kembali ke Rakyat, Bukan Sekadar Tertahan

Pajak adalah bentuk kontribusi masyarakat kepada negara. Tapi kontribusi itu harus dibalas dengan manfaat nyata. Ketika pajak rajin ditarik tapi numpuk di bank sentral, ekonomi kehilangan energi.

Kita butuh kebijakan yang tidak hanya mengumpulkan, tapi juga mengalirkan. Karena ekonomi bukan soal menabung, tapi soal menggerakkan.

Urusan pajak menjadi lebih mudah

Bukan hanya kemudahan, Konsultan pajak bandung BBF siap membantu sahabat BBF dalam urusan perpajakan. Bersama kami, sahabat tidak perlu khawatir memikirkan urusan perpajakan.

Serahkan semuanya kepada kami, dan sahabat tetap bisa fokus dalam membangun bisnis Sehingga sahabat bisa  mengehmat waktu dan tenaga untuk mengurus perusahaan.

Untuk akses lainnya bisa kunjungi melalui Instagram: @bisnisbestfriend atau bisa juga kunjungi tiktok kami bisnisbestfriend Jangan ragu untuk menghubungi kami hari ini untuk mendapatkan konsultasi gratis!

Klik tombol di sini atau hubungi kami di +62 821-2833-3701 untuk memulai. Jangan biarkan pajak menjadi beban, biarkan kami membantumu!

Follow dan kunjungi kami melalui:
X (Twitter)
Visit Us
Follow Me
Bagikan artikel ini
Mochamad Fajar Aulia
Mochamad Fajar Aulia
Articles: 1516

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *