GP Mandalika Menghasilkan Perputaran Ekonomi Rp4,8 Triliun

GP Mandalika Menghasilkan Perputaran Ekonomi Rp4,8 Triliun

Bandung, BBF – Gelaran GP Mandalika alias MotoGP Indonesia 2025 bukan hanya panggung adu cepat para pembalap, tapi juga magnet ekonomi di daerah. Dalam laporan media, ajang tersebut diprediksi menyumbang perputaran ekonomi sekitar Rp 4,8 triliun selama periode balap 3-5 Oktober 2025.

Kata “GP Mandalika” pun jadi sorotan  bukan sekadar event olahraga, tapi peluang ekonomi dan tantangan tata kelola fiskal.

Bagaimana GP Mandalika Bisa Mendorong Penerimaan Pajak?

Kalau event segede ini bisa menghasilkan Rp4,8 triliun perputaran ekonomi, maka potensi pajak yang “terkait” juga cukup besar.

Beberapa aspek pajak & fiskal yang bisa terdampak:

  1. Pajak konsumsi & penjualan
    Aktivitas kuliner, belanja suvenir, toko oleh-oleh di kawasan event akan menghasilkan PPN atau pajak daerah tergantung regulasi lokal.

  2. PPh atas penghasilan
    Pendapatan pekerja lokal, jasa event, pemasok logistik  semua bisa kena PPh sesuai skema pemotongan atau tarif final.

  3. Retribusi & pajak daerah
    Pemerintah daerah bisa memetik retribusi dari izin usaha sementara, retribusi parkir, pajak hotel, pajak restoran, dan sejenisnya.

  4. Pajak impor & bea masuk
    Barang impor sementara untuk keperluan event (equipment, spare parts) mungkin diberi fasilitas bea masuk atau dibebaskan sementara, namun tetap memerlukan pengaturan agar tidak jadi celah penyalahgunaan.

Namun, agar potensi ini benar-benar tertangkap (tidak cuma di “angka Rp4,8 triliun” secara makro), dibutuhkan sistem administrasi pajak & koordinasi lintas instansi yang efektif  agar usaha lokal tercatat, pajak bisa dipungut, pengawasan berjalan baik.

Tantangan dan Risiko dari Gelaran Besar Seperti GP Mandalika

Walau angka Rp4,8 triliun terlihat impresif, tak semua “uang yang beredar” berarti menjadi penerimaan negara atau daerah. Ada sejumlah tantangan:

  • Kelabu administrasi usaha kecil: pedagang kecil mungkin tak tercatat resmi, sehingga aktivitasnya tidak lewat sistem pajak.

  • Pengawasan dan kesiapan fiskal daerah: jika sistem monitoring lemah, ada potensi kebocoran atau pajak yang tidak terhitung.

  • Insentif dan pengecualian pajak event: untuk menarik investor atau event internasional, sering diberikan fasilitas pajak atau bea masuk khusus  yang bisa mengurangi “share pajak” negara dari event tersebut.

  • Sustainabilitas ekonomi lokal: setelah event selesai, apakah aktivitas ekonomi bisa terus berlanjut atau kembali lesu? Jika tidak dikelola, efek jangka panjang bisa saja tipis.

Jadi, event besar seperti GP Mandalika harus diiringi strategi agar bukan hanya “ledakan satu kali” tetapi menciptakan ekosistem ekonomi yang berkelanjutan.

Mengapa Angka Rp4,8 Triliun Ini Menarik?

Pasang kacamata ekonomi apa arti perputaran ekonomi itu?

  • Okupansi penuh hotel & akomodasi: hampir semua hotel di kawasan Mandalika dan NTB penuh selama event.

  • Transportasi & penerbangan meningkat: penambahan penerbangan ekstra ke Lombok dilaporkan, transportasi lokal ikut melonjak. UMKM dan kuliner lokal tumbuh: pedagang makanan, suvenir, jasa transportasi lokal, semuanya merasakan lonjakan permintaan.

  • Tenaga kerja lokal diserap: ribuan orang jadi bagian dari tim operasional, mulai dari keamanan, kebersihan, transport, logistik.

Itu baru aspek “langsung terasa”. Secara tidak langsung, efek multiplikator bisa membuat aliran uang menyebar ke sektor-sektor penunjang lain: bahan bangunan, penyewaan alat, jasa promosi, hingga pajak daerah dan nasional.

Pelajaran bagi Event Besar dan Daerah Lain

GP Mandalika adalah contoh konkret bagaimana event internasional bisa menjadi motor ekonomi daerah. Tapi agar dampak positifnya maksimal dan tidak jadi ajang hype sesaat, perlu beberapa langkah:

  • Integrasi data usaha lokal agar semua pedagang, penyedia jasa, terpungut pajaknya secara transparan.

  • Koordinasi pusat-daerah supaya kebijakan fiskal (pajak, insentif, bea masuk) tidak tumpang tindih dan digunakan optimal.

  • Pengembangan infrastruktur (jalan, transport, koneksi internet, layanan publik) supaya event-event berikutnya bisa lebih baik dan lebih sering.

  • Pelatihan UMKM dan pendampingan administratif pajak agar pelaku lokal bisa naik kelas (resmi, tercatat, dan sustainable).

Kita melihat bahwa event MotoGP di Mandalika mampu menciptakan perputaran ekonomi sekitar Rp 4,8 triliun selama gelaran 3–5 Oktober 2025.

Tapi “uang beredar” bukan berarti seluruhnya masuk ke kas negara atau daerah  agar kontribusi pajak maksimal, diperlukan manajemen fiskal dan administrasi yang cermat, serta peran aktif pemerintah lokal dan nasional.

Dengan strategi yang tepat, GP Mandalika bisa menjadi model bagaimana event sport tourism bisa menjadi pendorong ekonomi lokal jangka panjang  bukan hanya euforia sesaat.

Urusan pajak menjadi lebih mudah

Bukan hanya kemudahan, Konsultan pajak bandung BBF siap membantu sahabat BBF dalam urusan perpajakan. Bersama kami, sahabat tidak perlu khawatir memikirkan urusan perpajakan.

Serahkan semuanya kepada kami, dan sahabat tetap bisa fokus dalam membangun bisnis Sehingga sahabat bisa  mengehmat waktu dan tenaga untuk mengurus perusahaan.

Untuk akses lainnya bisa kunjungi melalui Instagram: @bisnisbestfriend atau bisa juga kunjungi tiktok kami bisnisbestfriend Jangan ragu untuk menghubungi kami hari ini untuk mendapatkan konsultasi gratis!

Klik tombol di sini atau hubungi kami di +62 821-2833-3701 untuk memulai. Jangan biarkan pajak menjadi beban, biarkan kami membantumu!

Follow dan kunjungi kami melalui:
X (Twitter)
Visit Us
Follow Me
Bagikan artikel ini
Mochamad Fajar Aulia
Mochamad Fajar Aulia
Articles: 1516

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *