Bandung, BBF – Pada tahun 2025, tantangan ekonomi Indonesia diprediksi akan semakin kompleks. Ekonom senior dari Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Didik J. Rachbini, menyatakan bahwa target penerimaan pajak yang dipatok dalam Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) 2025 sebesar Rp2.490 triliun akan sulit dicapai.
Ada beberapa alasan utama mengapa Prabowo Subianto, jika terpilih sebagai presiden, akan menghadapi kesulitan dalam meningkatkan penerimaan pajak.
Daftar isi
Toggle1. Pertumbuhan Ekonomi yang Stagnan
Selama sepuluh tahun terakhir, pertumbuhan ekonomi Indonesia di bawah pemerintahan Presiden Joko Widodo belum mampu bergerak di atas 5%. Pertumbuhan ekonomi yang stagnan ini menjadi tantangan besar bagi presiden berikutnya.
Untuk mencapai target penerimaan pajak yang ambisius, diperlukan pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi. Namun, dengan kondisi ekonomi global yang tidak menentu dan berbagai tantangan domestik, mencapai pertumbuhan ekonomi di atas 5% akan menjadi tugas yang berat.
2. Daya Beli Masyarakat yang Menurun
Kondisi ekonomi yang berat juga ditandai dengan menurunnya daya beli masyarakat. Penurunan daya beli ini tidak hanya mempengaruhi konsumsi rumah tangga, tetapi juga berdampak pada penerimaan pajak. Ketika daya beli masyarakat menurun, konsumsi barang dan jasa juga berkurang, yang pada akhirnya mengurangi penerimaan pajak dari sektor konsumsi.
3. Tantangan Struktural dalam Sistem Perpajakan
Sistem perpajakan Indonesia masih menghadapi berbagai tantangan struktural. Salah satunya adalah tingkat kepatuhan pajak yang masih rendah. Meskipun pemerintah telah melakukan berbagai upaya untuk meningkatkan kepatuhan pajak, seperti melalui program pengampunan pajak dan reformasi administrasi perpajakan, hasilnya belum optimal.
Selain itu, perubahan pola bisnis dari konvensional ke digital juga menambah kompleksitas dalam pengumpulan pajak.
4. Janji Kampanye yang Membutuhkan Pengeluaran Besar
Janji kampanye Prabowo Subianto yang menuntut pengeluaran besar juga menjadi tantangan tersendiri. Untuk memenuhi janji-janji tersebut, pemerintah perlu meningkatkan penerimaan negara, termasuk dari pajak. Namun, dengan kapasitas penerimaan pajak yang tidak bisa digenjot lebih jauh lagi, memenuhi janji kampanye tersebut akan menjadi tugas yang sangat sulit.
Kesimpulan
Dengan berbagai tantangan yang ada, meningkatkan penerimaan pajak pada tahun 2025 akan menjadi tugas yang sangat berat bagi Prabowo Subianto jika terpilih sebagai presiden. Pertumbuhan ekonomi yang stagnan, daya beli masyarakat yang menurun, tantangan struktural dalam sistem perpajakan, dan janji kampanye yang membutuhkan pengeluaran besar adalah beberapa faktor utama yang membuat target penerimaan pajak sulit dicapai. Oleh karena itu, diperlukan strategi yang komprehensif dan inovatif untuk mengatasi tantangan-tantangan tersebut dan mencapai target penerimaan pajak yang telah ditetapkan.
Urusan pajak menjadi lebih mudah
Bukan hanya kemudahan, bisnis best friend siap membantu sahabat bbf dalam urusan perpajakan. Bersama kami, sahabat tidak perlu khawatir memikirkan urusan perpajakan,serahkan semuanya kepada kami, dan sahabat tetap bisa fokus dalam membangun bisnis Sehingga sahabat bisa mengehmat waktu dan tenaga untuk mengurus perusahaan.
Untuk akses lainnya bisa kunjungi melalui Instagram: @bisnisbestfriend atau bisa juga kunjungi tiktok kami bisnisbestfriend Jangan ragu untuk menghubungi kami hari ini untuk mendapatkan konsultasi gratis! Klik tombol di sini atau hubungi kami di +62 821-2833-3701 untuk memulai. Jangan biarkan pajak menjadi beban, biarkan kami membantumu!










